Deal with Problem
Manusia mana sih yang
tidak punya masalah? Miskin, kaya, muda, tua, semua punya masalah. Jangan dikira
orang kaya bebas dari segala permasalahan hidup. Dari segi finansial mungkin mereka
terlihat oke, tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Toh hidup
tidak selalu tentang uang dan kekuasaan. Masih banyak permasalahan yang harus
dihadapi manusia setiap harinya. Tentunya semua sesuai dengan kemampuan
masing-masing dalam menghadapinya. Karena Allah tidak akan memberi cobaan pada
seseorang melebihi batas kemampuannya.
Bagaimana cara
seseorang dalam menyikapi permsalahan yang dia hadapi? Tentu saja berbeda-beda.
Tergantung dari pribadi masing-masing. Ada orang yang akan melampiaskan
kekesalan yang dia rasakan kepada orang-orang di sekitarnya. Ini adalah
pelampiasan yang sangat tidak tepat. Orang-orang di sekitar kita akan merasa
tidak nyaman dan lama-kelamaan akan menjauhi kita. Aura negatif yang kita tularkan hanya akan memperburuk
keadaan. Apalagi kalau kita sampai melampiaskan kekesalan yang sedang kita
rasakan kepada innocent person. Akan sangat
disayangkan jika kita kehilangan sahabat dan dijauhi keluarga hanya karena
sifat buruk ini.
Ada juga orang yang
memendam apa yang dia rasakan sendiri dan mencoba menutupinya dengan bersikap
seolah semua “baik-baik” saja. Dibandingkan dengan tipe yang pertama, tipe
orang seperti ini mungkin lebih baik. Setidaknya dia tidak menularkan bad mood-nya kepada orang lain. Tapi
kebiasaan memendam perasaan juga tidak bisa dibilang baik. Manusia adalah
makhluk sosial yang saling membutuhkan. Tidak ada salahnya kita berbagi tentang
apa yang kita rasakan kepada orang yang dapat kita percaya. Entah itu teman,
kerabat, atau pasangan. Walaupun terkadang
mereka tidak dapat memberikan solusi dari permasalahan kita, tapi setidaknya
beban yang kita rasakan dapat sedikit berkurang setelah kita berbagi. Terkadang
kita hanya memerlukan “tempat sampah” saat curhat.
Maksudnya, kita hanya ingin didengarkan tanpa perlu dikomentari. Karena hanya
dengan didengarkan kita merasa memiliki “seseorang” yang peduli terhadap kita. Malah
terkadang memang ada orang yang tidak suka dikomentari saat ia sedang berkeluh
kesah karena ia akan merasa digurui.
Tapi ingat, kita harus
memastikan bahwa orang yang kita ajak berbagi adalah benar-benar trustworthy person. Jangan sampai kita hanya membuat "seluruh dunia" mengetahui permasalahan kita hanya
karena kita salah memilih partner
curhat. Jangan pula menjadi “galauers” atau
orang yang sering galau dan mencurhatkan hal yang sama berulang-ulang hingga
membuat orang lain bosan dan menjauhi kita atau malah ikut-ikutan galau. Untuk tipe galauers
yang seperti ini saya pernah melihatnya di dunia nyata dan memang benar, sifat
itu hanya akan membuat kita dijauhi bahkan oleh sahabat sekali pun.
Dengan demikian, kita
juga perlu memperlakukan orang lain di sekitar kita sebagaimana kita ingin
diperlakukan. Jadilah pendengar yang baik, berilah saran jika diminta, tetapi
harus tetap “tahu diri” sejauh mana kita bisa terlibat. Jangan sampai kita
mencampuri permasalahan orang lain terlalu jauh. Kita harus memasang
rambu-rambu dan border tersebut untuk
selalu diingat.
Intinya,,,be wise… mana cerita yang dapat kita
bagi dengan orang lain dan mana yang harus kita simpan sendiri. Jangan takut depresi
karena merasa sendiri. Karena kita tidak pernah sendiri. Ada Allah yang selalu bersama kita setiap
saat. Dia lah tempat curhat yang paling terpercaya, yang tak kan pernah lelah atau
bosan mendengarkan keluh kesah kita, yang tak kan pernah meninggalkan kita. Bahkan
Ia akan memberi jalan keluar terbaik bagi kita jika kita meminta.


Comments
Post a Comment